Tampilkan postingan dengan label #cieTobat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cieTobat. Tampilkan semua postingan

|| 2017 - Juni - 23 || #cieTobat, Ketenangan

Pk 13.05, 23 Juni 2017
Ketenangan






|| Kebiasaan Yang Hilang ||
Lama sekali rasanya tidak menulis apapun yang pernah & sedang dialami. Biasanya itu pertanda ada sesuatu yang lain dalam hidup saya. Mungkin ini prolog terpendek dalam tulisan yang pernah saya buat, hehehe…



|| Menjadi Tenang ||
Hari Jum’at ini menggunakan pakaian ibadah yang paling disuka. Sarung putih kotak-kotak, baju koko putih sedikit motif, dan peci hitam sedikit motif. Walaupun rasanya diri belum merasa suci namun ketika menggunakan hal tsb untuk ibadah berjama’ah rasanya teduh ya. Menggunakan sandal biasa dan melangkah ke masjid dengan bunyi gesekan antara sandal dengan aspal di siang hari yang terik, rasanya tenang.

Rasanya sesederhana itu mencari ketenangan.

Ke masjid untuk shalat Jum’at berjama’ah, berwudhu dari rumah, melangkahkan kaki di tengah mulai larutnya komplek dalam suasana penghuni yang mudik ke daerah. Kemudian melaksanakan shalat tahiyyatul masjid & tidak memainkan hp saat berkhutbah, menyimak setiap kata yang dilontarkan khatib, baik itu nasihat, teguran, maupun penyesalan bagi orang yang menghindari jumlah zakat yang sesuai dengan hartanya.

Ketika mata terasa memejam beberpa kali, muncul sketsa imajinasi kesalahan namun berusaha dihindarkan dengan membuka kelopak mata dan melihat kondisi sekitar. Semuanya hanyut dalam ceramah shalat Jum’at.

Ketenangan yang hakiki rasanya.

Ketika pulang, jarak 350 meter dari halaman masjid disapa oleh Bapak berpeci hitam sekitar rumah. Menanyakan bagaimana kabar kerja di Peruri, tentu saja saya tersentak karena heran darimana beliau tahu saya bekerja di Peruri. Usut punya usut sepupu beliau ada yang bekerja di Peruri Karawang. Ramah dan tenang sekali rasanya. Seakan sudah lama sekali tidak mendapatkan ketenangan hati tersebut.

Saya pernah mencoba untuk mengalihkan kegelisahan dengan menonton di bioskop, berlari sore hari, menidurkan diri setelah seharian beraktivitas, ke tempat sepi untuk memejamkan mata namun sama sekali tidak mendapatkan sebuah ketenangan.


Ternyata, sesederhana itu menjemput ketenangan. Menghadirkan hati seutuhnya pada Sang Pemilik Hati.

|| 2017 - Januari - 2 || #cieTobat, Bercanda Bersama Bapak

Pk 07.00, 2 Januari 2017
Bercanda Bersama Bapak


N.B.
Tulisan ini merupakan tulisan yang seharusnya dipublikasikan sejak 17 Agustus 2013. Lama banget ya? Yup. Entah apa yang menghalangi tangan dan bagian otak untuk saling sinergi. Dituliskan sekitar pk 16.43 sesaat setelah menghabiskan ½ hari yang begitu berharga bersama seseorang yang mendewasakan. ½ hari yang sangat mahal di tahun 2013 bagi seorang pemuda yang sedang tergila-gila dengan apa yang menjadi ambisinya bagi bangsa.

Judul asli tulisan ini adalah “Ini Kisahku Bersama Ayah, Mana Kisahmu?”





|| Tahun Ke-1 di FEUI ||
Tahun pertama di kampus gue akui memang sebagai tahun dimana gue mencari jati diri. Masuk ke dalam lingkungan pendidikan terbaik yang didambakan banyak anak muda malah menjadi tidak mudah bagi seorang remaja yang masih menyangkal keberadaannya dalam pergaulan baru tersebut. Menyangkal karena memandang dirinya rendah dibanding orang lain. Pergaulan? Lebih tepatnya pola pendidikan yang keras dan sebenarnya seru ketika mampu mewarnai, alih alih terwarnai oleh pergaulan yang sebenarny sehat namun tidak dapat mengendalikan diri hingga hilang arah tujuan.

Eksklusifitas diberikan oleh ayah dan ibu kepada gw untuk tinggal secara independen dengan teman-teman, walau akhirnya itu adalah hal yang terlalu prematur karena berujung pada tidak hanya menjauhnya diri gw secara fisik dengan orang tua melainkan secara batiniah.



|| Tahun ke-2 di FEUI ||
Kebanggaan apa yang merasuki tubuh gw hingga membangkitkan ego dalam diri. Jabatan yang diterima ayah & ibu di lingkungan TNI-AD pun cukup membuat jarak dengan diri gw. Gw seakan menolak segala keinginan pemberian orang tua. Entah karena ingin sederhana atau ingin membodohi diri, Hahaha… Tipis banget rasanya. Intensitas pertemuan yang semakin minim antara gw dan ayah membuat gw semakin berjarak. Bicara seperlunya. Diskusi seadanya. Jawaban sekenanya. Namun kalau di dalam lingkungan kampus maka hal tersebut tidak berlaku. Paradoks. Suka tidak suka, mau tidak mau, semakin menganganya jarak antara gw dengan ayah yang timbul karena berbagai hal.






|| Tahun ke-3 di FEUI ||
Amanah yang gw terima di lingkungan kampus, baik organisasi internal seperti BEM UI maupun eksternal seperti berbagai proyek cukup menyita waktu. Berbagai masalah pribadi pun cukup mengalihkan pandangan gw dari tatapan ayah. Seingat gw, pernah satu ketika sampai ga pulang 3-4 bulan karena mengurus ini-itu, sekalinya dijenguk ayah pun kebetulan lagi diluar kampus. Saat menulis ini pun rasanya gelap sekali ingatan masa lalu, sulit untuk diingat tapi ga bisa dihapus sama sekali, timbul tenggelam dari kepingan mozaik.



|| Tahun ke-4 di FEUI ||
Pernah dalam suatu perbincangan bersama Abdan Syakura (Manajemen FEUI 2009) setelah menjalani proses produksi Flohope Indonesia di Masjid Universitas Indonesia, entah apa yang menjadi pemicunya karena gw sangat jarang membicarakan tentang ayah gw atau bahkan tentang keluarga gw secara umum ke teman. Namun Abdan secara tiba-tiba berujar :

|| 2017 - Januari - 1 || #cieTobat, Reborn

Pk 07.00, 1 Januari 2017
Reborn


  



|| Pk 13.42, Rabu 8 Juni 2016 ||
Singgih apa kabar?
Gimana sudah solved sama Google?

Alhamdulillah kabar baik, Pak.
Bapak apa kabarnya juga? Sudah lama sekali tidak bertemu silaturahmi
Untuk Google Indonesia sudah dibantu oleh teman Bapak. Sekarang komunikasi terus dengan pihak Google ID walau masih ter-hold dari pihak Duta BUMN.

Ok Sipp!
Lanjutkan Nggih!

Ada yang bisa saya bantu, Pak?

Buku Underdog Marketing mau saya restart
Saya mau pakai strategi saya pecah dulu bagian2nya sebagai artikel
Jadi sekalian info ke Singgih
Nanti artikelnya saya post di website saya sebagai series
Authornya saya dan Singgih

Oh. Baik, Pak. Saya siap membantu.

Sip,
Nanti kalau perlu bantuan saya kabari Singgih



|| Pk 07.04, Senin 12 Desember 2016 ||
Singgih, please check website ini
Saya sedang proses persiapan buku underdog
Kita akan menambah 1 orang penulis, kenalan baik saya
Dia Chief Executive salah 1 perusahaan konsultan ternama
Kapan bisa ketemu Singgih?

Selamat pagi Pak,
Insya Allah saya siap 100% mndukung
Ibarat kendaraan, seperti bajaj, ketika ditarik gasnya Insya Allah meluncur
Saya siap bertemu & menyesuaikan dengan waktu luang Bapak.

Sip minggu depan ya kita bertemu bertiga
Konsepnya saya ubah sedikit menjadi merek pejuang
Nanti bareng2 upload 1 artikel/minggu. Ini semacam campaign sebelum bukunya published.






Tahun baru kali ini diawali dengan berbagai hal yang mengharuskan gw untuk bed rest di dalam kamar dari kemarin hingga besok nampaknya. Kembali bercengkerama dengan makhluk berkaki empat yang suka bermojok di bawah kasur, sungguh, kalimat ini terasa menyedihkan sekali. Pasca pulang dari Leadership Character Building Training di Bumi Arasy selama 3 hari yang ditutup dengan Arung Jeram membuat pigmen kulit menebal dan untungnya keluarga masih mengenali seorang Singgih Setiadi.

Sakit yang dialami ini menjadi sebuah sarana kontemplasi sudah sejauh mana merangkak. Tidak terasa sudah 1.5 tahun berada di BUMN ini, jangka waktu yang sebelumnya tidak terprediksikan. Rasanya hanya sedikit raihan prestasi yang didapat selama ini, terutama kinerja yang rasanya ambruk dibanding keinginan sejak awal tahun 2016.

Di tengah berhimpitnya ruang bernafas bagi kejelasan kedepannya., terbuka ruang komunikasi oleh Dosen Pembimbing saya yang idealis & progresif. Gw sangat memahami kesibukan beliau sehingga harus proaktif bertanya, atau kalau tidak akibatnya ya tindak lanjut suatu keinginan bisa ter-delay hingga beberapa bulan lamanya, Hahaha…

|| 2015 - Agustus - 1 || Menemukan Tuhan

Pk 15.02, 2 Agustus 2015
Menemukan Tuhan






“kenapa gw memilih jalan ini, boi, gw merasa sangat dekat hingga gw yakin bahwa gw dapat menemukan Tuhan di tempat tersebut”



Sabtu, 1 Agustus 2015, sesaat setelah bertemu di Masjid Universitas Indonesia untuk berbincang bersama beberapa teman lainnya membicarakan pendakian #naikGunungCiremai, salah 1 sahabat yang sudah saya anggap sebagai seorang saudara ini melontarkan ucapan diatas. Ucapan yang sejatinya tidak saya duga sama sekali, melihat latar belakang keluarganya yang sangat baik dalam hal agama.

Sekitar pk 19.47 kami berbincang cukup lama dari makan di tampat makan langganan di Kutek hingga di emeran masjid Muhammadiyah, Kutek. Lama sekali kami berbincang hingga masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi, idealis, hingga agama.

Dia anak FEUI, angkatan 2009, saya lebih nyaman jika menyebutnya dengan Mr.A di dalam tulisan ini. Banyak sekali dia memberikan sudut pandang mengenai bagaimana seharusnya hidup ini berjalan (menurut pandangannya),


“setiap lw ingin melakukan sesuatu, boi, gw yakin bahwa kita harus mampu menemukan jawaban dari pertanyaan, Apa tujuan hidup lw? Kenapa lw melakukan itu anu ini?”

|| 2015 - Maret - 21 || #LapasHijacked. Minggu ke-1. Sebuah Perkenalan di LP Paledang, Bogor,

Pk 18.45, 21 Maret 2015
 #LapasHijacked. Minggu ke-1. Sebuah Perkenalan di LP Paledang, Bogor,






Suhu AC di kereta Commuter Line siang ini yang menembus 23’C mampu menghalau hawa terik dari luar gerbong. Saya berdiri mematung tepat disamping seorang bapak muda yang mengajak saya untuk melakukan sesuatu yang berbeda di hari Sabtu siang. Beliau bernama Pak Taufik, salah seorang “punggawa” PKBM Nurul Jannah, Citayam, yang sama sekali tidak memungut biaya untuk para anak didik di PKBM tersebut.

Walau laju kereta Commuter Line mencapai 60km/jam namun saya masih mampu berdiri tegak di dekat pintu keluar dan memandang keluar jendela sembari sesekali melihat Pak Taufik yang terus-menerus menjamah gadget miliknya. Kereta baru saja melepas diri dari Stasiun Bojong Gede untuk mengangkut kami menuju Stasiun Bogor.






Dan lamunan pun menyeruak dalam deru kereta tersebut,

“Saya memang sudah cukup lama terjun dalam dunia pendidikan kurang mampu, namun apakah saya benar-benar siap untuk membantu Pak Taufik bersama teman-teman Flohope Indonesia dengan dunia pendidikan yang akan ditemui ini?”

“Sudah sejak kelas 1 SMA atau sekitar tahun 2005 saya diperkenalkan oleh kakak-kakak ROHIS SMAN 26 untuk bergabung membantu kegiatan pendidikan di daerah perkampungan kumuh Pasar Gembrong. Saya ingat betul (karena mereka menggunakan jaket kuning dengan makara berwarna biru muda) ada beberapa mahasiswi Psikologi UI yang turut membantu mengajar anak-anak SD-SMP dalam 1 basecamp berukuran mushola kecil kapasitas 25 orang. Mereka benar-benar menginspirasi saya, namun sesuatu yang dihadapi ini nampak berbeda.”

“Tahun 2012 hingga 2014 pun dilewati dengan berbagai pengalaman seru dalam mengajar dunia pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Selama 1 bulan ditempatkan di pelosok Garut untuk menjadi tim Gerakan UI Mengajar bagi 6 sekolah dasar di 3 desa, kemudian menjadi pengajar bagi anak-anak kurang mampu paket C di Rumah Belajar BEM UI hingga PKBM Nurul Jannah, Citayam, semuanya memiliki kesan sendiri & tidak ada kendala berarti selain senyuman, pemahaman, hingga hubungan antar pengajar dan murid yang semakin meningkat, namun saya tidak memiliki ide bagaimana cara menghadapi situasi yang akan dihadapi ini.”

Suara masinis kereta commuter line membuyarkan ingatan masa lalu saya bahwa akan tiba di Stasiun Bogor. Pak Taufik mengatakan bahwa tempat yang menjadi target kegiatan belajar mengajar tim Flohope Indonesia hanyalah sepelemparan batu dari Stasiun Bogor atau tinggal menyeberang dengan jembatan disamping. Hanya butuh waktu 2 menit dengan berjalan kaki.







Tempat mengajar kami adalah Lapas Paledang, Bogor.

|| 2015 - Februari - 4 || Anak - Anak Masjid

Pk 23.15, 4 Februari 2015
Anak - Anak Masjid






|| Menepi jelang Maghrib ||
“...sudah lama rasanya, 
aku tidak mendengar langsung pukulan bedug penanda adzan Maghrib, 
kadang terselip rasa rindu di dalam kumparan kegelisahan terhadap keputusan Tuhan 
rindu untuk terus menjaga hubungan denganNya...”

Jam digital di tangan kiri sudah menunjukkan pk 18.05 sore hari ini.
Langit di jalan sempit Cipayung sedang dirundung kesedihan, gelap seperti perasaan ini.
Perjalanan pulang dari kampus UI di Depok menuju rumah di daerah Pondok Gede biasanya memakan waktu hingga 45-60 menit tergantung kemacetan.

Akhir-akhir ini hatiku memang rasanya sedang terus mengamuk dengan setiap keputusan yang diberikanNya. Cara untuk melampiaskannya adalah dengan berusaha untuk menjauhiNya, walau sejujurnya aku memang juga tidak menemukan kedamaian dengan perilaku tersebut.

Hanya dengan memikirkan hal diatas saja jam digital sudah bergerak menuju pk 18.10. Sial. Maghrib ini aku rasanya ingin sekali shalat berjama’ah di masjid. Jarak antara jalan Cipayung hingga rumah pasti lebih dari 20 menit. Aku yang mengendarai motor Kharisma tanpa wing di kedua sisi sejenak berpikir bahwa tidak akan mencapai rumah tepat waktu untuk shalat berjama’ah di masjid komplek. Aku yakin pk 18.20 adzan akan berkumandang, sedangkan shalat berjamaah jika dilakukan saat perjalanan pulang bukanlah kesukaanku. Ribet adalah kata yang tepat untuk menggambarkan ketidaksukannku tersebut.

Tapi rasanya ada hal berbeda yang ingin kucoba.
Beberapa ratus meter dari padatnya jalan daerah Cipayung, terlihat kubah masjid berwarna biru yang mengubah hati ini untuk shalat Maghrib berjama’ah disana. Jika terus kupacu kharisma ini dengan kecepatan 60km/jam maka sampai di rumah pun pk 18.40, rasanya bosan jika shalat sendiri di rumah. Tepat pk 18.15 aku sudah tiba di masjid kubah biru tersebut. Kata mungil adalah gambaran yang tepat untuk luas masjid tersebut.

Tersisa 5 menit.

|| 2014 - November - 28 || Sabda Orang Tua

Pk 19.52, 28 November 2014
Sabda Orang Tua






Mengetuk pintu
Melangkah perlahan
Menuju sebuah persidangan
Dipersilahkan duduk dengan penuh perhatian tanpa meminta terlebih dahulu

Ruangan itu besarnya seperti 2 hingga 3 kali ruangan saat aku menguji hasil penelitian pemasaran politik untuk sidang karya akhir. Mereka tersenyum hangat kepadaku, sedangkan bibirku tak bisa menolak membalas senyuman bapak & ibu.

baik, Mas Singgih, sekarang coba kamu ceritakan diri kamu

Aku rasa aku sudah siap menerima semua pertanyaan. Seluruh kajian akademik maupun pengamat sudah aku lahap dalam waktu 2 hingga 3 hari. Mungkin tidak ada yang bisa menahan optimisme yang telah ku bangun selain keraguan yang terus menyeruak. 1, 2, 3, hingga berlembar-lembar catatan yang selama ini telah ku kaji seakan-akan muntah berserakan saat ditanyakan 1 hal diatas tersebut.

|| 2014 - Oktober - 18 || Srikandi Tangguh dari Kediri : (Bu) Tri Rismaharini !

Pk 20.28, 18 Oktober 2014
Srikandi Tangguh dari Kediri, (Bu) Tri Rismaharini !






NB : Sebenarnya agak sedikit ngeri apakah diri ini mengalami kepribadian ganda atau tidak, kemarin menggunakan kata ganti “Aku” sekarang sedang nyaman dengan kata ganti “Gue”. Apakah ini karena inkonsistensi diri atau bukan, merinding juga dibuatnya, tapi kalau mau adu tes pauli sama kraeppelin ayok sini ngadu untuk mengetahui siapa yang memiliki kelainan ganda, maksudnya, kepribadian ganda.



|| Juma’t, November 2013, Dewan Guru Besar UI ||
Di bulan November 2013 lalu gue dimintakan tolong oleh Pak Harryadin Mahardika Ph.D. untuk menjadi pemimpin tim teknis penyelenggaraan Eksplorasi Pemimpin Bangsa dan Daerah selama 5 hari di Fakultas Kedokteran UI, Salemba, dibawah bimbingan beliau dan Dewan Guru Besar UI.

Memasuki hari ke-4, seketika setelah selesai shalat Jum’at dan tak henti mendoakannya di Masjid ARH UI, Salemba, gue inget banget saat itu, *mata memandang tajam seperti elang*, setelah melalui rangkaian eksplorasi Pemimpin & Negarawan Indonesia yang  diselenggarakan Dewan Guru Besar UI, hari Jum’at itu akan memasuki sesi diskusi bersama Bu Tri Rismaharini untuk mempresentasikan diri mengenai pembangunan di wilayahnya. Namun sebelum itu tidak lupa @nisahkm (Chairunisa Saraswati Hakim, -red) mengingatkan gue untuk makan siang terlebih dahulu, *jadi ge-er* walaupun juga mengingatkan teman-teman lainnya kalau tidak salah, *loncat dari Lt.2 masjid Arif Rahman Hakim*.

|| 2013 - Juni - 19 || Indahnya Silaturahim - Selayaknya GUIM




Pk 15.03, 19 Juni 2013
Indahnya Silaturahim - Selayaknya Gerakan UI Mengajar Batch 1

|| Sebuah Prolog ||

Gue yakin bahwa ini akan menjadi sebuah kesalahan yang tak termaafkan, setiap melihat lipatan jaket tersebut, setiap melihat memori foto tersebut, setiap melihat tawa atau senyum seorang anak yang berada di sebuah desa -dimanapun itu- rasanya memori otak ini merangkum semua penyesalan, perjuangan yang rasa-rasanya buat gue ga maksimal, bernama Gerakan UI Mengajar Batch I.






|| Apa yang gue lakuin hari ini ||

Entah, ini karena gue yang kemasukan jin atau jin kemasukan gue yang ngebuat hari ini gue bangun pk 10.05, Demi Allah sebenarnya gue malu ini buat nulis ini, tapi gimana lagi, gue menganggap ini sebagai sebuah pelajaran Fisika di SMA yang selayaknya masih bisa diremedial.Walaupun ini dibaca sama -mungkin- seseorang yang akhir-akhir ini sering foto dirinya tapi percayalah bahwa gue terus belajar dan berubah untuk memantaskan diri.

Oke. Balik ke topik.

|| 2013 - Juni - 18 || Mari Memantaskan Diri - Kerennya Jadi Peneliti!

Pk 10.15, 18 Juni 2013
Mari Memantaskan Diri

Gue yakin orang yang sedang galau pasti akan menghubungkan judul diatas dengan keadaan dirinya yang hampa, yang ga ada pikiran lain selain gimana caranya untuk deketin dia ya? Seakan-akan ga ada masalah bangsa yang dia pikirkan untuk diselesaikan *batuk berdahak*

Tepat 2 hari lalu gue melihat sebuah pengumuman acara yang sangat menarik gue rasa, walaupun saat mendaftar ada aja godaan dalam hati yang membuat gue untuk menolak ikut seperti “gila lo gih, IPK aja masih cupu sok-sok ikut acara buat orang pinter” atau “gue yakin kalo gue ikut gue bisa dapet makan gratis” atau yang lebih hina lagi seperti “seenggaknya lumayan buat pencitraan gue supaya dikira orang kalo gue pinter”






Gue ngerasa kalo dalam ikhtiar mendapatkan pengetahuan baru aja masih minder gimana jadinya kalo mau merubah diri untuk menjadi lebih baik, seenggaknya gue ikhtiar dateng dulu kalo gue paham atau engga ya itu urusan belakangan, seenggaknya kan dapet cofee break gratis *jitak diri sendiri*

|| 2013 - Maret - 12 || Gue Ya Gue! Gue Bukan Ayah Gue! :")






Pk 12.12, 12 Maret 2013
Gue Ya Gue! Gue Bukan Ayah Gue!

Berada di ruang 24 jam benar-benar membuat gue merasa gila dengan pengaturan waktu semester 10 ini. Keputusan mengambil 4 mata kuliah + skripsi + menjaga idealisme dengan mengurus @flohope_IDmembuat gue harus menerapkan kebijakan pengetatan waktu. Atau lebih tepatnya benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik selama 24 jam. Sangat jauh berbeda dengan sifat gue yang membentuk kebiasaan membuang-buang waktu di semester 1 sampai 6. Ini apa yang gue tetiba merasakan ingatan luar biasa selama menginap malam ini.


|| Pertengahan 2011 ||
Di Musholla FEUI, Siang hari yang panas, setelah kelas selesai
  • Achay  : Boy, bokap lw ABRI kan boy?
  • Gue     : Iya boy, Bokap lw AL kan boy?
  • Achay  : Iya. Boy... Eh, pangkat bokap lw bukannya Letkol ya Boy?
  • Gue     : Iya boy, kenapa? *sambil jambak Achay*
  • Achay  : Boy.. Kasian gue ngeliat lw, kaya ga keurus, ga ada pakaian yg lebih baik boy?
*dan kami berdua ketawa sambil jambak mulut lawan bicara*

|| Pertengahan 2012 ||
Saat perjalanan bersama Sandi, menuju Bukit Duri, urus Sahabat Ciliwung
  • Sandi   : Boy, maap-maap nih ya boy, gw mau tanya ya boy
  • Gue     : Apaan boy? Santai aja,
  • Sandi   : Bokap lw bukannya pangkatnya kolonel ya boy?
  • Gue     : Hm.. Kayanya iya boy.. Kenapa boy?
  • Sandi   : Duh Boy.. Maap-maap nih ya boy.. Lw kenapa ga naik mobil boy?
  • Gue     : Hahaha.. Gue ga bisa boy, gue juga maunya nanti nyetirin istri gue, Hahaha
  • Sandi   : Hahaha.. Engga’ Boy, soalnya temen2 gue pas SMA ama kuliah itu yg bokapnya kolonel minimal bawa mobil 1 ke kampus atau sekolahnya boy.
  • Gue     : Hahaha.. Gw sebenarnya bisa aja boy.. tapi gimana ya..
  • Sandi   : Engga boy.. Gue mikirnya bokap lw orang yang lurus-lurus aja gitu boy, Hahaha..
  • Gue     : Mohon doanya boy.. Gue kayanya pernah ditawarin mobil boy, tapi emang gue nya yang ga mau
*lalu kami ngobrol kesana-kemari*



Mungkin banyak temen-temen gue yang tahu tentang latar belakang keluarga gue akan bertanya tentang sebuah sifat & keadaan kontras yang terjadi sama diri gue sekarang yang sering berpakaian compang-camping, keadaan miris tampak dari wajahnya yang tampan nan sholeh, serta tubuhnya yang kurang terawat kaya bonsai.