Tampilkan postingan dengan label #lembaranBaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #lembaranBaru. Tampilkan semua postingan

|| 2017 - Maret - 3 || #newLife, Kinerja Terburuk


Pk 20.10, 3 Maret 2017
Kinerja Terburuk






|| Sama Sekali Bukan Yang Dibayangkan ||
Sebenarnya saya malas menulis sesuatu jika saya tidak mendapat asupan pengetahuan tambahan dari berbagai bahan bacaan sebelumnya, entah itu dari novel, majalah, atau bahkan manga. Namun kali ini rasanya tidak tahan untuk mengeluarkan apa yang sedang dirasakan, dipikirkan, atau bahkan memang sebuah kenyataan.

Kondisi saat ini sama sekali keadaan yang sama sekali dari bayangan kinerja ideal yang saya harapkan. Jika dapat menilai diri sendiri (karena alat ukur kinerja perusahaan tidak dapat dikatakan ideal) maka saya berada dalam kondisi yang terburuk.

Parameternya mudah, pekerjaan jadi menumpuk karena kesalahan menset prioritas, terlalu berpikir perfeksionis hingga lama (atau bahkan tidak mampu) membuat keputusan, kesulitas mengejar ritme perusahaan yang fluktuatif. Bukannya berlebihan, namun rasanya Allah SWT menjawab berbagai doa yang dilontarkan sekitar (tepat) 2 tahun lalu, saat kekecewaan itu menjalar hingga urat nadi & desiran keputusasaan terasa di dalam darah.

Pada sebuah doa yang dirapalkan pada diamnya malam,

“Ya Rabb, apakah ini keputusan terbaik-Mu?”

|| 2016 - Maret - 24 || #NewLife, Analisis “What If & 5W”

Pk 16.46, Kamis 24 Maret 2016
Analisis “What If & 5W”

“Singgih… Saya ini sebelum masuk ke perusahaan ini sebelumnya berada di perusahaan yang mungkin memiliki nilai valuasi 10x hingga 20x lipat dibanding sekarang.

Saya diajari betul sejak awal bahwa dalam sebuah pengambilan keputusan maupun menganalisa sesuatu, segalanya memerlukan prinsip What If yaitu apa yang terjadi jika, bagaimana keetika, berapa dan sebesar apa, yang mana kesemuanya tersebut terangkum juga dalam konsep pola pikir 5W.

Sebagai sarjana yang S1 maupun S2 tentu kita sama-sama pernah membuat sebuah karya ilmiah yangmana diperlukan sebuah landasan berpikir yang runut, dengan referensi data yang valid, memiliki bukti analisa yang jelas, dsb. Hal ini pun persis dalam sebuah proses pengambilan keputusan di perusahaan.”






Saat ini saya sedang “membantu” menangani suatu amanah dan atau dapat dikatakan proyek di perusahaan ini sebagai bagian dari pihak Perencanaan Strategi Perusahaan & Manajemen Resiko. Amanah ini diserahkan dengan begitu cepat melalui penunjukan langsung sejak awal Desember 2015. Amanah yang sejatinya sudah dimulai tim pendahulu semenjak tahun 2014 namun belum terselesaikan hingga saat ini karena 1 dan lain hal.

Namun dari amanah ini saya mendapatkan banyak sekali arti penjagaan komunikasi antar pihak yang bersangkutan maupun berkeputusan dalam proses pengambilan keputusan.

|| 2016 - Maret - 24 || #NewLife, Amanat Atasan

Pk 10.01, 24 Maret 2016
Amanat Atasan

“Singgih… untuk saat ini, Biro kita masih melakukan hal-hal yang sama seperti tahun kemarin. Hal-hal yang bersifat rutin. Karena memang beberapa pekerjaan yang saya kerjakan di tahun kemarin sudah dibagikan ke biro lain setelah terjadinya restrukturisasi.

Saya berharap kepada Singgih dan Dien saling bekerjasama dengan baik untuk membuat sebuah inovasi. Sesuatu yang baru. Bukan sekedar menyelesaikan pekerjaan rutin…

Kalau Singgih ada ide gila maka sampaikan saja, saya terbuka sekali dengan hal tersebut. Kalau memang ide gilanya belum sempurna pun maka dapat menyampaikan ujung awal dan outputnya saja tidak apa-apa untuk kemudian kita diskusikan…

Pak DU saat ini sedang membuka kesempatan keran ide gila yang dapat diaplikasikan. Saya ingin membawa kamu dan Dien jika sudah ada yang ingin diutarakan untuk kita bersama-sama menghadap beliau. Jika sudah melakukan itu maka saya siap dan bisa membuat kamu untuk Go Public…”






Pesan diatas merupakan amanah dari atasan langsung saya berkaitan dengan apa yang sebaiknya saya dan partner kerja lakukan untuk biro ini secara khusus maupun berdampak bagi perusahaan secara umum. Sebenarnya saya suka sekali berbicang dengan beliau (katakanlah) selepas jam kerja kantor karena beliau memiliki pengetahuan maupun pengalaman di perusahaan ini yang sangat valid dan berguna bagi karier maupun secara personal kedepannya. Saya menghormati beliau sebagaimanaa layaknya seorang atasan namun juga menaruh rasa patuh saya kepada beliau sebagaimana kepada orang tua saya.

Dilain waktu saat sedang kosong, beliau kadang sering bertukar pikiran dan berbagi “resep” bagaimana mensiasati pendapatan yang dapat dikatakan “cukup” dari perusahaan ini untuk tetap dapat (konkritnya) membangun rumah dan melakukan investasi tanah, bangunan, serta hal lain seperti masuk ke dalam bisnis Uber yang (menurut saya) menunjukan beliau visioner dalam “mempersiapkan” masa pasca pensiun yang akan dihadapi 5 tahun mendatang.

|| 2016 - Februari - 16 || #NewLife, Amanah Baru, Gaya Kerja Baru

Pk 12.52, 16 Februari 2016
Amanah Baru, Gaya Kerja Baru






Terhitung sudah sekitar 1 bulan saya mendapatkan amanah posisi berada di Biro yang baru, yang mana sedikit sekali irisan dengan amanah sebelumnya di Biro yang lama, walau begitu saya masih berada dalam divisi yang baru yaitu Perencanaan Strategi Perusahaan & Manajemen Resiko. Jika sebelumnya saya berada pada biro yang merupakan interpretasi 3 kata pertama dari nama divisi yang sudah saya sebut maka sekarang saya berada dalam biro yang merupakan interpretasi 2 kata terakhir.

Sejujurnya sangat menantang sekali saya berada di dlam biro ini karena langsung mendapatkan 2 amanah dimana salah satunya memiliki partner yang sudah berada pada biro ini sejak penerimaan 2015, penerimaan yang sama dengan saya namun kalau dia dengan 6 bulan sudah banyak sekali mendapatkan pengetahuan namun saya selama 6 bulan lalu lebih banyak melihat maupun mengalami sendiri konflik diantara beberapa pihak. Menarik.

Gaya bekerja (yang mana saya lebih suka dengan tidak menyebut bekerja karena saya tidak merasa terlalu bekerja) yang saya alami selama 6 bulan lalu sedikit banyak mempengaruhi kepribadian dan membuat keputusan pekerjaan.



Inefektif & Inefisien
Amanah yang saya kerjakan saat ini sangat berhubungan sekali dengan data. Memiliki tema besar untuk mengintegrasikan potensi resiko dari setiap direktorat untuk menjadi early warning system. Data mentah yang saya dapatkan (katakanlah) sekitar 100 data namun saya kembangkan lagi menjadi 465 data serta mendapat kiriman dari rekan kerja sekitar 150 data. Masalah tersulit dari sebuah data adalah penyajian sederhana dari interpretasi yang ditemukan. Ini yang membuat beberapa kerunyaman terjadi selama beberapa kali proses ekstrak data. Saya merasa ada sekitar 2-3x langkah kerja yang sebenarnya tidak diperlukan sebab bukan itu ternyata yang dicari. Tentu saja saya kesal terhaadap diri sendiri karena seperti menyia-nyiakan waktu yang ada.

|| 2016 - Februari- 05 || #NewLife, Mencoba Hidup Lebih Sehat

Pk 19.57, 05 Februari 2016
Mencoba Hidup Lebih Sehat






Nampaknya sudah cukup lama saya tidak menuliskan berbagai hal yang terjadi sejak tulisan mengenai #NewLife keluar di bulan Agustus 2015. Rasanya seperti mengalami krisis identitas saja. Bagi saya menulis adalah sarana paling jujur untuk mengekspresikan berbagai hal dalam diri dibandingkan bercerita dengan teman-teman namun bukan berarti teman-teman menjadi tidak berharga. Di tahun 2015, tahun dimana berbagai cobaan silih berganti dan menjadi ajang pencarian Tuhan, saya lebih banyak (atau mungkin lebih suka) menulis dibandingkan bercerita, karena akan lebih lancar dalam mengungkapkan perasaan.

Banyak sekali hal yang telah berubah sejak tulisan terakhir diposting. Mendapatkan amanah ini-itu, mencapai prestasi ini-itu, dipindahkan ke ini-itu, hingga gagal ini-itu rasanya hidup seperti menaiki rollcoaster saja. Seru. Kapan-kapan akan saya tuliskan.

Well,
Saya ingin memberitahu saja mengenai sistem makan di kantor BUMN ini. Setiap hari kerja kami mendapatkan makanan prasmanan yang menurut hemat saya benar-benar membuat hemat dari sisi waktu, tenaga, dan biaya. Tidak perlu kemana-mana dan sudah tersedia. Namun sesekali ada rasa bosan hinggapi diri karena monotonnya menu makanan walau (menurut saya) masih enak sebenarnya #ngelunjak dan tentu saja filosofi dasar prasmanan ialah bebas mengambil makanan dan ini berbahaya bagi jenis makhluk hidup omnivora seperti saya #halah. Berat badan akan melonjak drastis jika tidak dikontrol.

Untungnya ketika mengunjungi pabrik BUMN ini di luar kota, saya menemukan di ruang Divisi kami ada menu diet yang dipesan oleh salah 1 sesepuh divisi. Isinya menurut saya unik sekali. Kentang, ayam dada panggang, sop bakso, buah apel besar, tomat besar, sambal, roti gandum ditambah selai, dan sayuran. Beliau akan pensiun di bulan Juli 2016 ini.

|| 2015 - Agustus - 26 || #NewLife, Senior Management Team

Pk 17.57, 26 Agustus 2015
Senior Management Team






“bukan gitu maksudnya gue. 
Kalau lw ngelakuin dengan cara kaya begitu mah anak SMA juga bisa nyusun program kerja yang sama kaya tahun sebelumnya. Pertanyaannya kalau memang di tahun ini bisa dilakuin, kenapa harus ngenunggu ampe tahun kerja berikutnya untuk nyelesainnya? Kalau kaya begini caranya ampe akhir tahun bisa gak dapet apa-apa kita kan! Gue mana mau gak ngehasilin apa-apa sampe akhir tahun 2015”

Hari ini, bukan-bukan, mungkin lebih tepatnya sore ini saya disajikan bagaimana terdapat perbedaan sudut pandang mengelola tanggung jawab diantara perspektif orang-orang BUMN dengan perspektif seorang pimpinan yang ex. direktur perusahaan swasta.

Salah 1 pimpinan perusahaan yang saya tempati menutup hari di ruang rapat divisi dengan segala kritikannya yang semakin membuka mata saya tentang tata kelola keuangan perusahaan yang ada di bawah kementerian BUMN ini. Beliau adalah seorang pro-hire di perusahaan ini yang tergolong sebagai “anak baru” dari sisi umur kerja karena baru “dikontrak” sejak akhir tahun 2014 namun dari sisi pengetahuan sektor bisnis serasa senior yang dapat diadu oleh para pegawai di perusahaan ini yang mendekati masa pensiun.

Pertemuan dimulai pk 15.45 di ruang rapat divisi dengan dihadiri oleh seluruh perangkat departemen. Total ada sekitar 8 orang yang berada di dalam ruangan. Beliau langsung bertanya yang membuat saya terperangah.

“Ini siapa yang membuat laporan evaluasi 2015 dan proyeksi 2016? Kamu ya, Singgih?” Buru beliau yang membuat saya hampir GR karena mengira hasil kerja akan dinilai bagus namun buru-buru saya mengklarifikasinya.

|| 2015 - Agustus - 12 || #NewLife, Betahkah Singgih?

Pk 14.57, 12 Agustus 2015
Betahkah, Singgih (?)






“jadi gimana nih, Singgih? udah 2 bulan kan disini? betah gak?”

Matahari sebentar lagi akan mengangkat kopernya untuk pergi sesaat dari menyinari bumi bagian Jakarta Selatan. Jam digital di sudut kanan bawah laptop menunjukkan angka 2:57, hamdalah tugas yang baru saja disidang oleh Kepala Departemen Kajian Strategi Bisnis hanya menyisakan sedikit revisi, “akhirnya bisa tidur lebih awal, 15 menit selesai lah ini”, batin saya kegirangan serasa anak usia 7 tahun yang membunyikan terompet tahun baru.

Saya berada di ruang rapat Divisi Pengembangan Strategi Bisnis yang dapat dikatakan mewah jika dibandingkan fasilitas departemen lainnya. Dengan AC yang super dingin serta purifier yang tersedia dengan meja kaca bundar dikelilingi oleh 10 kursi kerja dan 1 layar TV samsung untuk presentasi. Sebuah investasi di bidang keilmuan yang suatu saat akan dituntut direksi dengan pencapaian kerja divisi ini. Saya menyebut ruangan ini, “Basecamp Cave”.

Akhir-akhir ini pun saya suka menyendiri, terutama di Basecamp Cave, tempat yang (sangat) menyejukkan, jauh dari hingar bingar, dan jauh dari asap rokok, ya, asap rokok.

Tepat lembar ke-2 sebelum selesainya revisi, datanglah seseorang dari Divisi Pengelolaan Aset dan Anak Perusahaan. Nampaknya beliau tipe orang yang ramah terasa dari senyuman dan jabatan tangannya. Kami pernah bertemu saat saya dan partner diajak keliling perusahaan di hari pertama penempatan kerja. Sesuatu yang jarang dirasakan oleh teman seangkatan.

jadi gimana Singgih, sudah 2 bulan kan? Betah gak? atau sedang ikut-ikutan psikotest di tempat lain? Hahaha…

|| 2015 - Juli - 23 || #NewLife, Mahaguru Tetiba Datang

Pk 10.30, 23 Juli 2015
Mahaguru Tetiba Datang






|| Siapakah Dia ||
“Serius sekali kalian ini, menjelang tengah tahun ya makanya kalian begini, hati-hati nanti pengetahuan & pandangan kalian menjadi kacamata kuda…Hahaha…”

Suara berat penuh kekhasan datang dari arah belakang saya yang sedang penuh konsentrasi menatap laptop. Saya memang duduk membelakangi arah pintu ruangan kami yang saya sebut dengan “basecamp”. Untung saja saat itu saya sedang tidak membuka youtube atau kaskus. Suara beliau sama sekali tidak saya kenal, bahkan ketika saya menatap beliau dari ujung rambut hingga ujung kaki pun tetap tidak kenal, terlebih beliau menggunakan kaos singlet serta jeans yang tidak boleh digunakan di area perusahaan saat weekdays.

Wakil Kepala Departemen yang sedang 1 ruangan bersama saya pun menyalami beliau & cukup menunduk hormat. Rasanya seperti Raja Negara Api saja datang menyapa rakyatnya.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau adalah Kepala Divisi Perencanaan Perusahaan & Manajemen Resiko. Sebuah posisi elit yang menjadi tangan kanan para direksi dalam memahami & mengambil keputusan strategis perusahaan. Kita sebut saja beliau Mr. T

Beliau lulusan sarjana Universitas Hasanudin tahun 1987 & didikan asli program pengembangan SDM perusahaan ini, yang mana penerimaan via jalur sarjana di tahun tersebut hanya meluluskan 11 orang. Hingga saat ini, 1 keluar dari perusahaan, 1 sudah meninggal, 1 orang stuck pada posisi Kepala Departemen, beberapa sebagai direksi di anak perusahaan, sisanya sudah menjabat Kepala Divisi (sebuah posisi karier akhir di perusahaan karena posisi direksi merupakan posisi politik yang berdasarkan penunjukkan RUPS maupun menteri), banyak sekali beliau bercerita sejak pertama menjadi pion di papan permainan perusahaan ini hingga meniti karier menjadi seorang raja yang memainkan bidak-bidak penting.

Beliau suka menyebut dirinya sebagai Mahaguru. Hehehe…



|| Kacamata Kuda ||
“Ayo coba sekarang… Diskusi sama saya, sekarang, apa sih yang kalian lakukan di Divisi Pengembangan Strategi Bisnis ini?” ancam beliau kepada 4 orang staf divisi yang baru dibentuk tahun 2013 ini. Saya sebagai anak bawang hanya bisa memandang beliau penuh hormat & serius saja alih-alih ingin menjawab tapi demi “keselamatan diri” mending diam.

Ada 3 poin penting yang disarankan beliau kepada kami, sebagai seorang staf baru, di divisi yang baru dibentuk 2 tahun lalu. Poin yang dibuka dengan kalimat yang mengingatkan saya tentang lw disini mau ngapain kedepannya Gih, lw paham gak disini kondisinya gimana, lw tahu gak resiko masuk sini, lw tahan gak dengan kerja kaya gini Gih.

Saya sangat suka dengan beliau yang memaparkan kondisi nyata perusahaan ini, secara telanjang mengenai bagaimana perpolitikan hingga beberapa kekurangan agar kami sadar.

“coba lah kalian kaji dengan baik serta cepat untuk kondisi, potensi, & ekspansi keuar negeri bagaimana. Kita mampu bersaing gak?”

Saya dan teman-teman yang memang mendapatkan tugas sedari pertengahan Juni 2015 lalu untuk mencari 50 perusahaan pesaing di luar negeri hanya bisa terus memanggut. Wajar. Sebab Mr. T menjelaskan bahwa infrastruktur pendukung perusahaan ini untuk bersaing di dalam negeri saja sudah tertinggal 10 tahun lalu dengan salah 1 perusahaan swasta pesaing, yaitu pabrik pendukung bahan baku utama perusahaan ini.

|| 2015 - Juli - 13 || #NewLife, Mimisan

Pk 04.27, 13 Juli 2015
Mimisan






Sesaat setelah bangun dari tempat tidur spring bed berukuran 3*2 meter, rasanya berat sekali untuk bangun. Bukan karena tubuh yang menolak untuk memulai sahur namun otak rasanya penuh sekali jika tidak dikatakan pikiran yang selalu jalan terus bahkan disaat tubuh ini diharuskan untuk beristirahat.

Saat raga ini sudah mampu digerakkan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dari mulut keluar dahak berwarna merah alih-alih riak yang bercampur dengan darah.

Ada hal yang tidak beres nampaknya, batin ini berujar

Hingga ketika wudhu keluarlah darah dari hidung. Mimisan, kata yang paling sering disebutkan oleh masyarakat umum akan fenomena tubuh tersebut.

Bagi saya
Mimisan adalah pertanda buruk
Mimisan merupakan pertanda bahwa ada yang tidak beres dengan saya. Bukan. Bukan karena saya sedang memproses diri ini menuju kegilaan secara jiwa. Hanya saja tekanan yang menimpa otak saya semakin besar.

Mimisan bagi saya berarti pertanda ada yang tidak beres dengan kualitas hidup saya, yang jamak diukur dengan pola ibadah, pemanfaatan waktu, slot waktu berpikir bagi otak, hingga kondisi jasmani yang kurang optimal. Dengan kata lain.

Ada yang salah dengan hidup saya.

Kamu tahu hal yang paling menakutkan bagi saya?
Hal ini, mimisan, seringkali terjadi sekitar bulan Februari-Maret 2015 lalu. Waktu dimana saya mengalami kejatuhan secara fisik maupun mental atau ujian terberat ketika waktu secara terus menerus menggerus pikiran saya, pikiran akan apa yang saat ini dan kedepan saya lakukan atau dapat dikatakan bagaimana cara membunuh waktu di tengah keluangan-kelonggaran yang saya dapatkan.

Dan saat ini
Ketika ada perubahan yang saya dapatkan, katakanlah diterima di salah 1 perusahaan, saya masih mendapatkan mimisan tersebut sebagai hadiah dari ketidaknyenyakan yang saya alami semalaman ini. Pertanda jelas bahwa secara riil tidak ada yang berubah dengan diri ini baik ketika uang terhadap waktu atau mendapatkan amanah tertentu dari bulan Mei-Juli ini walau memang secara nominal berubah secara drastis.

Sejatinya, tidak ada yang berubah dengan diri ini. Lembaran awal di hari Senin yang kelam.

"2 nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat & waktu luang"
(HR. Bukhari)

NB :
Sebelum tidur, otak ini berkecamuk. Suara masa lalu yang menderu hingga saling membalap untuk menakuti masa depan saya. Hingga 15 menit memejamkan mata tidak berhasil.

|| 2015 - Juli - 8 || #NewLife, Cantik

Pk 10.19, 8 Juli 2015
Cantik (?)







Terlalu banyak kebosanan di dalam ruang kerja membuat saya berinisiatif keluar mengajak rekan kerja (seorang perempuan) untuk mengembalikan formulir pendaftaran keanggotaan ke koperasi perusahaan yang berada di luar area kantor walau jam digital di pergelangan tangan kiri saya masih menunjukkan pk 08.47.

Ya.
Saya menyebutnya “luar area kantor” karena memang harus melewati ketatnya penjagaan gerbang perusahaan & harus membawa kartu sakti yang ditandatangani atasan untuk dapat diizinkan keluar area perusahaan oleh petugas keamanan.

Dalam perjalanan menuju gerbang,
Keluarlah seorang perempuan berjilbab dari ruangan yang berbeda dari ruangan kami, dari divisi atau departemen yang berbeda. Saya tidak terlalu memperhatikannya, terbalik dengan rekan kerja saya yang melihatnya dengan penuh seksama & kekaguman. Dia berjalan duluan dibandingkan kami dengan langkah agak terburu-buru.

“cantik ya, Gih?” tiba-tiba rekan kerja saya melontarkan pertanyaan ke saya
“menurut kamu cantik kan kan, Gih?” lanjut rekan saya menodongkan pertanyaan serupa

“Hm… Bagaimana ya.” respon saya dengan pelan
“Menurut saya biasa saja…” timpal saya menjelaskan lebih lanjut

“Lho.. Kamu ini gimana sih Gih, banyak lho angkatan kita yang bilang dia cantik, dia mantan Duta Perusahaan lho Gih” rekan saya terus saja berpromosi

|| 2015 - Juli - 02 || #NewLife, Terlalu Banyak Bicara

Pk 14.52, 2 Juli 2015
Terlalu Banyak Bicara






Akhir-akhir ini saya merasa menjadi orang yang terlalu banyak bicara. Entah itu secara fisik di kantor maupun secara virtual di grup whatsapp. Detik ini saya seperti menghentakkan kepala untuk menyadarkan diri mengenai apa tujuan saya berada di perusahaan ini. Detik ini juga saya sedang mendapat amanah dari Kepala Departemen Implementasi Bisnis namun seperti kehilangan kesadaran dengan apa yang saya ingin capai di perusahaan ini.

Kehilangan arah
Berbeda dengan ketika di samapta yang saya paham sebenarnya apa yang ditargetkan dan bagaimana cara untuk mencapainya atau bahkan melebihi target akhir dari yang ditetapkan oleh pihak instruktur maupun pihak perusahaan.

|| 2015 - Juni - 18 || #NewLife, Adrenalin Meningkat

Pk 10.40, 18 Juni 2015
Adrenalin Meningkat





|| Panggilan Atasan ||
“Mas Singgih, Mba Putri
Nanti disuruh sama Kadiv untuk ikut progress meeting dengan pihak Financial Advisor,
Pk 10.00 di ruang rapat direksi”

“Great!”
Teriak saya dalam hati, penuh antusias
“Akhirnya setelah menunggu beberapa hari belakangan, mungkin sekitar 5 hari, ada ajakan juga dari atasan untuk mengetahui dunia asli dari perusahaan ini”, gemuruh dalam hati.

Telisik punya telisik ternyata financial advisor yang dimaksud terdiri dari beberapa konsultan yang dipimpin oleh sekuritas perusahaan tingkat dunia (ada 1 anak FEUI yang menjadi tim kerjanya) terdiri dari legal team, business plan team,  business valuation team.

Pk 08.15 baru dimulai dengan jadwal asli pk 08.00 sebab ada beberapa pihak yang sangat berkepentingan belum datang. Dari pihak financial advisor datang lengkap seluruhnya berjumlah 10 orang dengan 2 anak magang, sedangkan dari perusahaan saya datang Direktur Pemasaran & Pengembangan Usaha, Kepala Divisi Pengembangan Strategi Bisnis, Kepala Departemen Kajian-Strategi Bisnis, Wakil Kepala Departemen Implementasi Bisnis, serta saya dengan 1 partner kerja.

Terdapat 3 pokok bahasan utama yang dijadwalkan hingga pk 10.00, yaitu
  1. Valuation & due diligence
  2. Business plan
  3. Business valuation

|| 2015 - Juni - 16 || #NewLife, Lipstik

Pk 16.19, 16 Juni 2015
Lipstik






Hari yang nampaknya (kembali) membosankan karena masih serasa hilang arah di Divisi perusahaan ini yang memang relatif sangat baru terbentuk. Walaupun begitu tetap rasa penghormatan dijunjung kepada 3 pimpinan setara Kepala Departemen yang ada di ruangan.

Dan ditemani oleh 1 rekan kerja perempuan yang sifatnya berbeda 180’ dengan saya. Sebuah keunikan karena terkadang kami saling menyesuaikan diri dengan sifat-sikap masing-masing.

Sejujurnya
Saya belum terlalu kenal dengannya, mungkin karena inisiatif saya yang juga kurang untuk lebih mengenal maupun memahami rekan-rekan gelombang 1. Entah… Apakah ini ada hubungannya dengan beberapa kekecewaan yang pernah dialami. Partner saya tersebut merupakan anti-tesis dari Singgih Setiadi yang mencoba terus berubah dari masa lalunya.

“Singgih, coba deh lihat ada yang berbeda gak sama aku?”, partner saya bertanya serius

“Apa ya, nampaknya semua terlihat baik-baik saja”, saya menjawab dengan datar

“Hah, beneran? Kalo menurut kamu, aku lebih cocok pakai lipstik warna merah atau pink?”, teman saya kembali bertanya. Dan kali ini saya hanya bisa mengernyitkan mata sembari berjalan perlahan di depannya.