Pk 21.33, 12 Maret 2013
Kisah seorang Mappa : sebuah potret “Kekayaan” dalam Kemiskinan Statistika
|| Catatan Awal ||Tulisan ini saya sadur dari buku “Widjojo Nitisastro, 70 Tahun, Pembangunan Nasional : Teori, Kebijakan, & Pelaksanaan” dimana ditulis oleh Bapak Sjahrir, Dosen Luar Biasa FEUI, Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, & Pengambangan Ekonomi (LP3EI) KADIN Pusat berjudul Kemiskinan, Keadilan, & KebebasanSebuah tulisan yang menyadarkan kembali semangat saya untuk terus memperjuangkan Flohope Indonesia, @flohope_ID, untuk bergerak mengimplementasikan ilmu dari kampus tercinta, menyentuh langsung masyarakat Bojong Gede, tempat supply tenga kerja tak terdidik & tak terampil dari mulai Ibu Penyapu Jalan UI hingga anak Penjual Koran.
|| Here we goes ||
Mappa’ adalah sebuah nama yang lazim di Ujungpandang. Mappa’ dalam tulisan ini bukan Mappanyukki atau Mappaudang, 2 tokoh masyarakat Makassar yang namanya diabadikan sebagai nama jalan. Sebaliknya, Mappa’ kita ini adalah dia yang nobody’s concern, tak seorang pun yang memperhatikan dan mempedulikannya. Dia adalah gelandangan.
Gelandangan Mappa’ berumur 25 tahun . Ia menggelandang (menurut W.J.S Poerwadarminta, “bergelandangan” adalah “berjalan kesana-sini tak tentu maksudnya”. Karena Mappa’ tak punya rumah, maka ia adalah gelandangan) di sekitar daerah pantai Losari pada malam hari & di bilangan Pasar Sentral pada siang hari.


